Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

5.5.09

Bangga Dengan Islam

Islam adalah agama yang mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan agama-agama lain. Ditinjau dari segi manapun, Islam tetap yang terbaik. Hal ini terbukti dan diakui oleh kalangan non-muslim sekalipun; sebagaimana pernah saya kutip di artikel "My Choice" pada edisi Maret yang lalu. Akan tetapi, bila kita melihat fenomena agama ini di saat ini, kejanggalanlah yang sering kita temukan; agama menjadi bahan tontonan, membuat pikiran dipenuhi dengan pertanyaan.

Bukankah Islam, agama yang harum di beberapa abad yang silam?! Bukankah Islam, agama yang mengangkat harkat dan martabat manusia?! Tapi fakta berbicara, Islam tidak seindah di masa Nabi Muhammad Saw., tidak juga seindah di masa Abu Bakar ra dan pejuang-pejuang Islam lainnya. Kenapa demikian? Kok bisa berbeda?! Bukankah kita juga menjadikan Al-Quran sebagai landasan hidup juga?

Di sini, saya mau mengajak para pembaca untuk bertamasya sebentar ke masa jayanya Islam. Masa yang membuat ummatnya benar-benar bangga terhadap agama ini.

Di masa-masa sebelumnya, Islam adalah penguasa peradaban. Para ilmuan Barat juga pernah belajar dari ulama-ulama muslim yang ketika itu berada di Cordova, Spanyol. Bentuk universitas-universitas tertua di Eropa yang rata-rata hampir sama dengan bentuk mesjid dan pakai kubah misalnya, merupakan bukti konkrit dari semua itu. Selain itu, buku “Al-Qonun fi Al-Fiqh” yang disusun oleh Imam Ghozali, merupakan buku rujukan di Jerman, begitu halnya dengan buku kedokeran yang disusun oleh Ibn Sina. Logaritma sebagai salah satu cabang ilmu dalam matematika; siapa penemunya kalau bukan orang Islam dari kalangan Khawarij?! Masih banyak contoh lain yang membuktikan kalau Islam pernah jaya, menjadi guru dan menguasai peradaban.

Jadi, kita umat Islam bukanlah umat primitive. Peradaban Islam dahulu sudah maju di saat Barat masih tertidur dalam kebodohan. Namun setelah belajar dari ulama-ulama Islam, timbullah semangat mereka yang membuahkan gerakan kebangkitan kembali yang dikenal dengan istilah renaisans.

Pada dasarnya, maju dan mundurnya agama ini, tidak terlepas dari mereka yang mengaku sebagai pemeluknya. Lebih jelasnya, Islam adalah sebuah nama ajaran dan kepercayaan yang diwujudkan kepada suatu aplikasi, berlandaskan wahyu Ilahi yang sifatnya aplikabel. Ketika ajaran agama ini diaktualisasikan oleh ummatnya dengan baik dan menyeluruh, maka akan terwujud kemajuan. Namun jika yang terjadi adalah penyalahgunaaan oleh ummatnya sendiri, kemunduranlah yang akan terjadi. Sekulerisasi Islam, liberalisasi Islam, komunisasi dan sejenisnya merupakan bentuk dari penyalahgunaan tersebut; kesemuanya adalah ‘makhluk-makhluk aneh’; tampil dengan background mempesona yang berorientasikan pada segala sesuatu yang bisa diselesaikan dengan akal pikiran.

Inilah sebenarnya problema yang memecah belah umat; musuh dalam selimut, tampil memikat dengan tawaran-tawarannya yang menggiurkan.

Islam punya aturan hidup. Islam menjadikan berpikir sebagai suatu aktifitas hidup. Hal ini sejalan dengan ungkapan yang sudah familiar dikalangan para filosof, “manusia adalah hewan yang berfikir”. Dengan kesimpulan – yang mungkin masih tergesah-gesah – “ketika ada manusia yang tidak berfikir maka yang tersisa hanyalah hewannya.”

Oleh karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang berjalan dengan semaunya, tanpa mau mengikuti aturan yang ada. Kalau peraturan lalu-lintas di Indonesia para pengendara berjalan di sebelah kiri, namun kalau di Kairo di sebelah kanan. Tapi yang menjadi beban pikiran dan juga harus di-clear-kan adalah orang yang berjalan tanpa aturan; tidak aturan Indonesia dan tidak juga aturan Kairo; malah dia bejalan sesukanya. Begitu juga halnya dengan pikiran manusia. Ketika akal pikiran ‘dijalankan’ tanpa aturan dan petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah, lalu dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur terhadap segala sesuatu, maka Islam akan tetap terperosot seperti yang kita saksikan sekarang ini. Pola pikir ‘tanpa aturan’ inilah yang kadang meracuni ‘sebahagian saudara’ kita yang ada di bagian filsafat. Atas nama filsafat dan pemikiran, tanpa sadar mereka menjadi kuli pembantu bagi ‘oknum-oknum luar’ yang berusaha mencari titik-titik lemah umat ini dan kemudian menjungkirbalikkannya dari belakang.

Prof. Sunan Taqdir Ali Sahbana adalah salah satu pakar filsafat Barat yang lumayan tenar; ketika beliau ditanya tentang hakikat filsafat, beliau tidak tahu. Ini menunjukkan filsafat itu tidak mempunyai pola pikir yang jelas dan tidak terarah. Karena cara berpikir di kalangan mereka adalah tanpa panduan yang jelas, yang terpenting adalah berpikir dan berpikir. Akhirnya, hasil pemikiran mereka didominasi kesalahan; satu benar dan sepuluh salah.

Namun demikian, kita tetap harus mengakui jika berfilsafat ataupun berpikir itu mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Tapi di sisi lain, filsafat juga bisa menjadi meracuni pikiran manusia; lebih konkritnya saat filsafat ataupun akal dijadikan sebagai satu-satunya barometer kebenaran segala sesuatu, sebagaimana prinsip Mu’tazillah: “Yang benar adalah yang dibenarkan akal dan yang salah adalah yang disalahkan akal.”

Berpikir sebagai aktifitas akal dan sebagai ruh dari filsafat, pada dasarnya tidak dikesampingkan oleh Islam. Justru seperti yang disebutkan di atas tadi, berpikir dalam Islam adalah sebagai suatu aktifitas hidup. Dalam Al-Qur’an sendiri, tidak sedikit nash yang menggambarkan urgensi berpikir. “Afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak berakal?!), “Afalaa tatafakkaruun“ (Apakah kalian tidak berpikir?!) adalah di antara kutipan nash Al-Qur’an yang memotivasi berpikir. Demikian juga dalam Hadits, misalnya hadits Mu’adz bin Jabal yang menjadikan ijtihad sebagai salah satu sumber hukum setelah Al-Qur’an dan Hadits.

Pola pikir yang diinginkan oleh Al-Qur’an, tentunya pola pikir yang sesuai dengan petunjuk, tujuan dan nilai-nilai ajaran Islam. Bukan pola pikir tanpa aturan, tanpa batas, apalagi tanpa tujuan. Sebab yang kedua ini bisa menjerumuskan manusia pada kekeliruan (lebih-lebih dalam masalah yang berkenaan dengan Aqidah) dan kesenjangan (seperti halnya yang terjadi di Negara-negara komunis dan liberal).

Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang muslim merasa bangga dan bersyukur menjadi pemeluk agama mulia yang mempunyai ajaran dan petunjuk yang universal ini. Rasa bangga terhadap agama ini merupakan salah satu motivasi untuk mengembalikan eksistensi ajarannya yang sudah hampir lenyap. Islam akan kembali jaya jika ummatnya berjalan sesuai dengan tuntunannya. Islam akan kembali memimpin peradaban bumi ini, jika ummatnya sesuai dengan koridor yang belaku (petunjuk dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits). Kitalah – sebagai pemeluk Islam – yang menentukan kejayaan tersebut.

Sebagai terobosan dari kesenjangan yang terjadi selama ini, sudah sepatutnya kita berusaha untuk lebih memahami segala aturan-aturan yang ada dalam agama ini, bukan membuat aturan sendiri dan memaksakan agama untuk mengikutinya. Allah berfirman dalam al-Quran dalam surah An-Nisai ayat 26:

“Allah hendak menerangkan syariat-Nya kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan kehidupan orang yang sebelum kamu…”

Di dalam tafsir Aisar al-Tafasir disebutkan, bahwa ayat ini memberikan gambaran kepada kita semua akan kejelasan kebaikan dan kebenaran. Juga memberitahukan kepada kita bagaimana orang-orang sebelum kita yang teguh pendirian dalam keimanan mereka.

Oleh karena itu, keselamatan kita tidak akan pernah didapat dengan hanya berharap pada pertolongan Allah semata, begitu juga dengan jayanya agama ini. Akan tetapi selalu terikat pada baik atau tidaknya cara pandang orang yang membawa agama tersebut. Kembali kepada pola pikir Islami adalah solusi dari problema yang melanda umat Islam saat ini. Pikiran dijernihkan dan dijauhkan dari keinginan hawa nafsu yang lebih cenderung mengedepankan kenikmatan yang sementara dan melupakan batasan-batasan sejauh mana manusia boleh menggunakan pikirannya. Kita memang makhluk yang berfikir, akan tetapi bukan segala sesuatu harus dengan akal pikiran. Sebab syariat juga mengakui kelemahan daya pikir manusia yang serba terbatas.

Di dalam satu hadist disebutkan sebagai batasan dari peran manusia dalam berfikir: “Silahkan memikirkan ciptaan Allah, dan jangan sekali-kali memikirkan hakikat Allah.

- By: Sufrin Efendi Lubis”

Selengkapnya [klik disini]

27.2.09

SUMTRA (Sumatera Tenggara)

Pemekaran merupakan bagian dari prinsip distribution of power/prinsip pembagian kekuasaan, yang dirumuskan dalam bentuk desentralisasi atau pelimpahan wewenang politik baik dari pusat maupun dari daerah pemekaran itu sendiri. Dalam hal ini kita bicara tentang pemekaran provinsi. Pentingnya pemekaran wilayah pada hakekatnya adalah dalam upaya menciptakan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien serta berdaya guna demi mewujudkan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan dan pengembangan otonomi dalam masa transisi ini adalah mengembangkan prakarsa dari dalam, menumbuhkan kekuatan-kekuatan dari masyarakat sehingga intervensi dari luar termasuk dari pemerintah terhadap masyarakat harus merupakan proses pemberdayaan dalam rangka mengelola pembangunan untuk mengharapkan perubahan dan peluang yang lebih luas. Dengan status provinsi tiap daerah mempunyai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang berasal dari sumber pendapatan sendiri.
Pertama, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Kedua, hasil PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dana perimbangan keuangan, ketiga, pinjaman daerah. Keempat, pendapatan daerah yang syah lainnya.
Ketika daerah lain belum memimpikan, apalagi merencanakan atau mengusulkan pemekaran, sejumlah tokoh di atau dari Sumatera Utara (Sumut) sudah mengusulkan pemekaran untuk menjadikan Provinsi Tapanuli. Namun sampai sekarang belum terwujud padahal sejumlah daerah di NKRI sudah berhasil meng-otonomkan daerahnya, dan tercatat setelah runtuhnya orde baru pemekaran provinsi meningkat drastis yang dulunya cuma 27 provinsi sekarang sudah mencapai 33 provinsi. Lalu apa yang menjadi kendala di balik perjuangan prov- Tapanuli?

Tercatat ada tiga pemekaran yang di usulkan jadi provinsi di daerah Tapanuli saja yaitu, Prov-Tabagsel/Sumtra, Prov-Tapanuli, dan Prov-Tapanuli Barat. Dari sini kita lihat bahwa kendala terbesar terbentuknya Prov-tapanuli itu adalah tidak adanya suara bulat di tubuh Tapanuli, barangkali banyak alasannya termasuk karna kaitan histories, agama atau kebijakan politik yang berbeda antar daerah Tapanuli itu sendiri. Makanaya beberapa waktu lalu kita saksikan bagaimana aksi pendukung PROTAP/Prov-Tapanuli menyuarakan aspirasinya dan berakhir teragis dengan meninggalnya ketua DPRD SUMUT, barangakali kita tahu bahwa tuntutan Protap yang mayoritas Kristen dari tapanuli utara dan sekitarnya itu memang belum sesuai prosedur dan persyaratan. Apalagi setelah Sibolga, Tap-Teng dan Nias Selatan mencabut dukungannya, mereka tinggal empat kabupaten, makanya tuntutan mereka batal demi hukum, seperti dikutip dari pernyataan wakil ketua DPP PBR SUMUT.

Sekarang boleh dibilang bahwa "Provinsi Tapanuli hanya sebuah harapan", namun perlu kita ketahui bahwa jauh di sudut peta SUMUT ada perjuangan lain untuk mencapai impian pemekaran itu, provinsi SUMTRA/Sumatera Tenggara yang diusulkan Tapanuli Bagian Selatan/TABAGSEL sekarang lima daerah masing-masing Kota Padangsidimpuan, Tap-Sel, Madina, Palas, dan Paluta sedang berjuang di kancah politik. Kemudian lima daerah ini tidak ikut dalam perjuangan Protap yang sekarang. Bahkan kenyataan yang kita lihat bahwa perjuangan ini disponsori daerah-daerah yang mayoritas muslim. Penulis optimis bahwa Sumtra ini akan berhasil dan seyogiyanya kita sebagai putra-putri daerah harus ikut menyumbangkan kontibusi yang kita mampu. Apalagi elemen-elemen masyarakat juga serentak mendukung seperti HPM/Himpunan Pemuda Mandailing yang berpusat di Medan mengatakan dukungan penuh terhadap agenda ini seperti dirilis dari pernyataan ketua HPM Ahmad Sukhairy Lubis, begitu juga tokoh-tokoh kita yang ada dipusat mengatakan memang sudah sepantasnya daerah kita dimekarkan.

Menurut Caleg DPRD Sumut dari Partai Pelopor, Peri Dahrianto Siregar kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) sudah selayaknya mekar dari Propinsi Sumatera Utara, guna mempercepat pembangunan di daerah ini. Jauhnya jarak ibukota propinsi Medan dari Tabagsel berakibat tidak maksimalnya pembangunan di kawasan ujung Sumut ini, sehingga pemekaran merupakan jawaban guna mengejar ketertinggalan dari daerah lainnya,” katanya.

Peri Dahrianto mantan anggota DPRD Tapanuli Selatan periode 1999-2004 ini, mengatakan, sumber daya alam (SDA) yang dimiliki empat kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas (Palas), Padang Lawas Utara (Paluta), Mandailing Natal (Madina) serta Kota Padangsidimpuan, sudah sangat mencukupi dalam mendirikan propinsi baru.

Kelima daerah yang terletak paling ujung Sumut ini memiliki SDA melimpah berupa perkebunan sawit, karet, pertambangan emas, hasil laut, peternakan, penakaran burung walet, ditambah dengan panorama wisata yang tidak kalah dari daerah lainnya.

Sedang dari segi sumber daya manusia (SDM), Tabagsel memiliki putra-putri handal mampu bersaing ditingkat nasional bahkan internasional. “Kecerdasan maupun keahlian putra –putri Tabagsel sudah menasional mulai dari zaman perjuangan hingga saat ini,” katanya.

Juga seperti pernyataan Ketua DPRD Tapanuli Selatan Rahmat Nasution mengatakan, DPRD sangat mendukung adanya deklarasi lima kepala daerah di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Sebagai bukti keseriusannya adalah dengan mengeluarkan rekomendasi bersama untuk menyetujui pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara ini. Ketua DPRD Madina, Imran Khaitami mengatakan, usulan pembentukan provinsi ini sangat tepat karena kabupaten/kota di wilayah Tapanuli Bagian Selatan sangat jauh dan sulit dijangkau dari Medan,Ibu Kota Sumatera Utara. Jadi Penulis sangan antusias dan optimis dengan agenda besar ini apalagi nanti tabagsel dapat dukungan dari Labuhan Batu dan daerah-daerah pemekarannya, karna secara geografis memang mereka bersambung dengan wilayah Tabagsel dan menurut sensus, penduduk Kabupaten Labuhanbatu yang mayoritas bersuku Batak berjumlah mencapai 45, 50%, makanya Ketua Aliansi Masyarakat Labuhanbatu (AMAL) Jakpar Siddik Nasution sependapat dengan Yos Batubara. Jakpar menyatakan, terkait rencana pembentukan Provinsi Sumtra, Labuhanbatu Induk, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan sudah selayaknya bergabung… Allohu Akbar…
(Dikutip dari berbagai sumber).

Oleh: Ismail NAsution, Mahasiswa tkt III Fakultas Ushuluddin jurusan Hadits
Al-Azhar University in Cairo

Selengkapnya [klik disini]

9.2.09

Pentingnya Belajar Dari Sejarah

Upaya Mengembalikan Izzah Islam Yang Hilang

Sebagai agama Samawi (yang bersumber dari Allah Swt), secara umum Islam mengandung ajaran aqidah dan syari’ah. Sebagai agama aqidah samawi, Islam sudah ada sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke permukaan bumi. Semua Rasul yang diutus oleh Allah mempunyai misi untuk menyampaikan ketauhidan Allah SWT. Dan Islam sebagai sebuah sistem syari’ah, kesempurnaannya terdapat pada ajaran Rasulullah Muhammad Saw. yang merupakan rasul terakhir yang diutus oleh Allah ke bumi.
Selain sebagai agama, Islam juga mempunyai andil besar dalam menciptakan peradaban yang menakjubkan dan memberikan pencerahan moral terhadap manusia, yang sebelumnya boleh dikatakan, kebanyakan orang-orang pada zaman tersebut terperangkap dengan arus kebodohan (jahiliah) dan fanatisme yang berlebihan, sehingga kebenaran yang hakiki hampir hanyut ditelan masa.
Terjadinya perang antar suku, kabilah dan golongan tidak bisa terelakkan akibat dua sifat ini. Pikiran mereka waktu itu hanya berkisar pada kemegahan duniawi dan keamanan bagi suku atau golongannnya sendiri (tanpa memikirkan orang lain), siapa yang kuat jadi raja, yang lemah akan ditindas. Hukum rimba inilah yang menjadi landasan pemikiran mereka ketika itu. Namun setelah Islam datang, perlahan-lahan sebagian masyarakat Makkah tertarik dengan agama yang baru ini, banyak di antara mereka yang memeluk Islam dikarenakan kepercayaan mereka terhadap sang pembawa risalah yang mulia ini, Muhammad Saw. Dengan kejujuran dan keamanahan beliau dalam segala hal, masyarakat Makkah meberikan gelar kehormatan kepada beliau sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Dari Islam inilah ummat Islam memulai peradaban yang baru.
Semenjak islam memulai peradabannya, yang pertama kali ditanamkan dalam diri masyarakat adalah ketauhidan. Karena dengan dasar tauhid yang mantap dan benar akan terbentuk pribadi yang mencerminkan muslim sejati yang rela berkorban, penuh kasih sayang terhadap sesama muslim dan tak gentar menghadapi apa pun, sekalipun mereka dihadapkan dengan bahaya besar, dengan penuh ikhlas mereka mengorbankan segalanya demi kemaslahatan ummat islam.
Shuhaib Ar-Rumi, seorang sahabat Nabi yang bijak dan kaya rela meninggalkan semua hartanya demi melaksanakan perintah Rasul untuk berhijrah ke Madinah. Begitu juga dengan sahabat Nabi yang menjadi duta pertama islam di Madinah; Mush’ab Bin Umair yang rela meninggalkan ibu tercintanya demi menyebarkan agama yang rahmatul lil ‘Alamin ini. Tentu masih banyak lagi syakhsiyah yang rela berkorban demi menegakkan izzah islam ke penjuru dunia, katakan saja, sahabat Nabi Thariq bin Ziyad yang telah menyebarkan islam ke Spanyol. Walau pun hasil perjuangannya sekarang hanya tinggal sejarah, tapi tetap harus dikenang dan dipelajari sebagai ibrah bagi generasi muslim sekarang; bahwa islam akan kuat, jika didasari dengan akidah yang mantap, yang membuahkan generasi yang rela berkorban, peduli dan semangat yang membara dalam mengembalikan izzah islam yang sudah hilang ditelan masa.
Setelah Rasul menanamkan ketauhidan yang mantap didalam hati para sahabatnya, berikutnya, beliau pun mempersaudarakan kaum muslimin Anshar dan Muhajirin di Madinah. Dengan dasar ukhuwah, jalinan antar sesama muslim akan erat, peduli terhadap orang lain. Dengan dasar inilah persatuan ummat islam menjadi kukuh.
Dengan dasar keimanan dan persaudaraan yang ikhlash ini, terciptalah kekuatan Islam yang baru, bagaikan benteng yang kokoh yang tidak pernah pudar dengan siraman air hujan atau pun hantaman serangan musuh, tetap tegak menjaga dan melindungi isi dan orang yang di dalamnya. Inilah gambaran kaum muslimin ketika itu, bagaikan benteng yang kokoh, yang tetap utuh sekalipun mendapat hantaman musuh yang bertubi-tubi, yang semangatnya tidak pernah pudar, walau pun jumlah musuh mereka jauh lebih banyak dibandingkan mereka sendiri. Dua negara besar yang mempunyai kekuatan terbesar ketika itu – Persia dan Romawi – pun ikut tertaklukkan oleh islam, padahal jumlah kaum muslimin ketika itu jauh lebih sedikit. Inilah sekelumit gambaran kekuatan ummat Islam kala itu, mereka dengan gagah dan perkasa di hadapan para musuh. Namun sayang, karena itu hanya tinggal sejarah, andaikan sejarah itu bisa berulang, ummat islam tidak akan mengalami nasib seperti sakarang ini; kekharismaan Islam menghilang dalam sekejap, seolah-olah tidak pernah hadir dalam sejarah, persatuan Islam yang dulu kokoh, kini telah berpecah belah, pembedaan ras, suku, golongan dan antar Negara semakin memisahkan Islam dari persatuan yang pernah terjalin, permasalahan kaum muslimin di sebagian tempat, menjadi permasalahan mereka sendiri, seakan kaum muslimin lainnya tidak ambil bagian dalam masalah ini. Padahal Rasulullah Saw. pernah bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang tidak ambil bagian dalam permasalahan kaum muslimin, dia bukan dari golongan kami.”
Oleh karena itu kita harus tahu, meski sejarah selalu berputar, tetapi dia tidak serta merta terjadi begitu saja. Di balik keberhasilan suatu umat, ternyata di belakangnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki komitmen tinggi (ikhlas berdakwah dan berjuang) dalam upaya pemberhasilan tersebut. Jadikan tokoh yang mempunyai komitmen tinggi tersebut adalah kita,. Kalau semua ummat Islam berpikiran yang sama, izzah islam yang hampir pupus di tengah keramain ummat akan kembali lagi. Itulah harapan kita sebagai seorang muslim.
Belajar dari sejarah adalah tuntutan syari’ah islam, karena sejarah adalah sebuah memoar individu, golongan, agama dan ummat yang akan diambil ibrah darinya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
فاقصص القصص لعلهم يتفكرون
“Maka ceritakanlah, wahai Nabi, kisah ini kepada kaummu, agar mereka berfikir.” (surah Al-A’raf, potongan dari ayat 176).
Melihat keadaan ummat Islam yang lemah sekarang, bisakah kita mengembalikan izzah kita yang hilang? Jawabannya, bisa, jika kita mengambil ibrah dari sejarah.
Kalau ummat islam dulu dengan jumlah yang lebih sedikit mampu menguasai seperempat dunia, mengapa kita tidak bisa? Bukankah jumlah kita sekarang jauh lebih banyak?
Sejarah, bukan hanya cerita masa lalu. Sejarah menjadi cermin agar kita tidak terulang dalam kesalahan yang sama. Kalau seekor unta tidak mau tergelincir dua kali dalam sebongkah batu, itu sangat menakjubkan, karena dia adalah binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran. Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran, akankah kita kalah dengan binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran? Ataukah kita mau disebut lebih bodoh dari binatang? Tentu tidak, mungkin itu jawabannya. Kalau binatang saja bisa secermat itu, kenapa kita tidak?
Sejarah bukanlah masa lalu yang mati, not a dead past. Melainkan bagian dari peristiwa yang tetap hidup dan berulang di masa kini, still living in a present, yang menjadi ibrah bagi generasi sekarang. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Quran:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir).” (Ali Imran ayat 140).
Dari uraian yang diatas bisa disimpulkan, bahwa izzah islam akan kembali menghiasi peradaban dunia dengan memantapkan aqidah, mempererat hubungan sesama muslim (ukhuwah islamiyah), dan menjalin kesatuan ummat islam yang terpadu tanpa membedakan ras, suku, golongan dan Negara (masalah mereka adalah masalah kami). Dengan itu citra ummat islam yang sudah redup akan kembali hidup, harga diri dan kegagahan islam pun akan muncul di mata dunia. Karena itu bersatulah wahai ummat islam, kembalikan sejarah kegemilangan yang pernah menyinari dunia. Sadarilah, bahwa anda adalah ummat yang terbaik yang telah terukir dalam keindahan sastra Al-Qur’an yang abadi.
Walhamdulillah.

Sumber: Ahmad Partaonan Hsb, Mahasiswa Fakultas Syari’ah wal-Qanun Tafahna Al-Asyraf, Mesir, Tingkat IV, jurusan Syari’ah Islamiyah (2008-2009)

Selengkapnya [klik disini]

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).