Ada kesalahan di dalam gadget ini

9.2.09

Pentingnya Belajar Dari Sejarah

Upaya Mengembalikan Izzah Islam Yang Hilang

Sebagai agama Samawi (yang bersumber dari Allah Swt), secara umum Islam mengandung ajaran aqidah dan syari’ah. Sebagai agama aqidah samawi, Islam sudah ada sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke permukaan bumi. Semua Rasul yang diutus oleh Allah mempunyai misi untuk menyampaikan ketauhidan Allah SWT. Dan Islam sebagai sebuah sistem syari’ah, kesempurnaannya terdapat pada ajaran Rasulullah Muhammad Saw. yang merupakan rasul terakhir yang diutus oleh Allah ke bumi.
Selain sebagai agama, Islam juga mempunyai andil besar dalam menciptakan peradaban yang menakjubkan dan memberikan pencerahan moral terhadap manusia, yang sebelumnya boleh dikatakan, kebanyakan orang-orang pada zaman tersebut terperangkap dengan arus kebodohan (jahiliah) dan fanatisme yang berlebihan, sehingga kebenaran yang hakiki hampir hanyut ditelan masa.
Terjadinya perang antar suku, kabilah dan golongan tidak bisa terelakkan akibat dua sifat ini. Pikiran mereka waktu itu hanya berkisar pada kemegahan duniawi dan keamanan bagi suku atau golongannnya sendiri (tanpa memikirkan orang lain), siapa yang kuat jadi raja, yang lemah akan ditindas. Hukum rimba inilah yang menjadi landasan pemikiran mereka ketika itu. Namun setelah Islam datang, perlahan-lahan sebagian masyarakat Makkah tertarik dengan agama yang baru ini, banyak di antara mereka yang memeluk Islam dikarenakan kepercayaan mereka terhadap sang pembawa risalah yang mulia ini, Muhammad Saw. Dengan kejujuran dan keamanahan beliau dalam segala hal, masyarakat Makkah meberikan gelar kehormatan kepada beliau sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Dari Islam inilah ummat Islam memulai peradaban yang baru.
Semenjak islam memulai peradabannya, yang pertama kali ditanamkan dalam diri masyarakat adalah ketauhidan. Karena dengan dasar tauhid yang mantap dan benar akan terbentuk pribadi yang mencerminkan muslim sejati yang rela berkorban, penuh kasih sayang terhadap sesama muslim dan tak gentar menghadapi apa pun, sekalipun mereka dihadapkan dengan bahaya besar, dengan penuh ikhlas mereka mengorbankan segalanya demi kemaslahatan ummat islam.
Shuhaib Ar-Rumi, seorang sahabat Nabi yang bijak dan kaya rela meninggalkan semua hartanya demi melaksanakan perintah Rasul untuk berhijrah ke Madinah. Begitu juga dengan sahabat Nabi yang menjadi duta pertama islam di Madinah; Mush’ab Bin Umair yang rela meninggalkan ibu tercintanya demi menyebarkan agama yang rahmatul lil ‘Alamin ini. Tentu masih banyak lagi syakhsiyah yang rela berkorban demi menegakkan izzah islam ke penjuru dunia, katakan saja, sahabat Nabi Thariq bin Ziyad yang telah menyebarkan islam ke Spanyol. Walau pun hasil perjuangannya sekarang hanya tinggal sejarah, tapi tetap harus dikenang dan dipelajari sebagai ibrah bagi generasi muslim sekarang; bahwa islam akan kuat, jika didasari dengan akidah yang mantap, yang membuahkan generasi yang rela berkorban, peduli dan semangat yang membara dalam mengembalikan izzah islam yang sudah hilang ditelan masa.
Setelah Rasul menanamkan ketauhidan yang mantap didalam hati para sahabatnya, berikutnya, beliau pun mempersaudarakan kaum muslimin Anshar dan Muhajirin di Madinah. Dengan dasar ukhuwah, jalinan antar sesama muslim akan erat, peduli terhadap orang lain. Dengan dasar inilah persatuan ummat islam menjadi kukuh.
Dengan dasar keimanan dan persaudaraan yang ikhlash ini, terciptalah kekuatan Islam yang baru, bagaikan benteng yang kokoh yang tidak pernah pudar dengan siraman air hujan atau pun hantaman serangan musuh, tetap tegak menjaga dan melindungi isi dan orang yang di dalamnya. Inilah gambaran kaum muslimin ketika itu, bagaikan benteng yang kokoh, yang tetap utuh sekalipun mendapat hantaman musuh yang bertubi-tubi, yang semangatnya tidak pernah pudar, walau pun jumlah musuh mereka jauh lebih banyak dibandingkan mereka sendiri. Dua negara besar yang mempunyai kekuatan terbesar ketika itu – Persia dan Romawi – pun ikut tertaklukkan oleh islam, padahal jumlah kaum muslimin ketika itu jauh lebih sedikit. Inilah sekelumit gambaran kekuatan ummat Islam kala itu, mereka dengan gagah dan perkasa di hadapan para musuh. Namun sayang, karena itu hanya tinggal sejarah, andaikan sejarah itu bisa berulang, ummat islam tidak akan mengalami nasib seperti sakarang ini; kekharismaan Islam menghilang dalam sekejap, seolah-olah tidak pernah hadir dalam sejarah, persatuan Islam yang dulu kokoh, kini telah berpecah belah, pembedaan ras, suku, golongan dan antar Negara semakin memisahkan Islam dari persatuan yang pernah terjalin, permasalahan kaum muslimin di sebagian tempat, menjadi permasalahan mereka sendiri, seakan kaum muslimin lainnya tidak ambil bagian dalam masalah ini. Padahal Rasulullah Saw. pernah bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang tidak ambil bagian dalam permasalahan kaum muslimin, dia bukan dari golongan kami.”
Oleh karena itu kita harus tahu, meski sejarah selalu berputar, tetapi dia tidak serta merta terjadi begitu saja. Di balik keberhasilan suatu umat, ternyata di belakangnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki komitmen tinggi (ikhlas berdakwah dan berjuang) dalam upaya pemberhasilan tersebut. Jadikan tokoh yang mempunyai komitmen tinggi tersebut adalah kita,. Kalau semua ummat Islam berpikiran yang sama, izzah islam yang hampir pupus di tengah keramain ummat akan kembali lagi. Itulah harapan kita sebagai seorang muslim.
Belajar dari sejarah adalah tuntutan syari’ah islam, karena sejarah adalah sebuah memoar individu, golongan, agama dan ummat yang akan diambil ibrah darinya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
فاقصص القصص لعلهم يتفكرون
“Maka ceritakanlah, wahai Nabi, kisah ini kepada kaummu, agar mereka berfikir.” (surah Al-A’raf, potongan dari ayat 176).
Melihat keadaan ummat Islam yang lemah sekarang, bisakah kita mengembalikan izzah kita yang hilang? Jawabannya, bisa, jika kita mengambil ibrah dari sejarah.
Kalau ummat islam dulu dengan jumlah yang lebih sedikit mampu menguasai seperempat dunia, mengapa kita tidak bisa? Bukankah jumlah kita sekarang jauh lebih banyak?
Sejarah, bukan hanya cerita masa lalu. Sejarah menjadi cermin agar kita tidak terulang dalam kesalahan yang sama. Kalau seekor unta tidak mau tergelincir dua kali dalam sebongkah batu, itu sangat menakjubkan, karena dia adalah binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran. Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran, akankah kita kalah dengan binatang yang tidak mempunyai akal dan pikiran? Ataukah kita mau disebut lebih bodoh dari binatang? Tentu tidak, mungkin itu jawabannya. Kalau binatang saja bisa secermat itu, kenapa kita tidak?
Sejarah bukanlah masa lalu yang mati, not a dead past. Melainkan bagian dari peristiwa yang tetap hidup dan berulang di masa kini, still living in a present, yang menjadi ibrah bagi generasi sekarang. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Quran:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir).” (Ali Imran ayat 140).
Dari uraian yang diatas bisa disimpulkan, bahwa izzah islam akan kembali menghiasi peradaban dunia dengan memantapkan aqidah, mempererat hubungan sesama muslim (ukhuwah islamiyah), dan menjalin kesatuan ummat islam yang terpadu tanpa membedakan ras, suku, golongan dan Negara (masalah mereka adalah masalah kami). Dengan itu citra ummat islam yang sudah redup akan kembali hidup, harga diri dan kegagahan islam pun akan muncul di mata dunia. Karena itu bersatulah wahai ummat islam, kembalikan sejarah kegemilangan yang pernah menyinari dunia. Sadarilah, bahwa anda adalah ummat yang terbaik yang telah terukir dalam keindahan sastra Al-Qur’an yang abadi.
Walhamdulillah.

Sumber: Ahmad Partaonan Hsb, Mahasiswa Fakultas Syari’ah wal-Qanun Tafahna Al-Asyraf, Mesir, Tingkat IV, jurusan Syari’ah Islamiyah (2008-2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).