Ada kesalahan di dalam gadget ini

21.1.10

Suatu Malam di Kedai Kopi

Adzan Maghrib telah berkumandang di mesjid. Cahaya siang mulai redup dan hilang ditelan gelap. Tidak seperti biasanya, kali ini mesjid kelihatannya dipenuhi oleh banyak anak-anak dan orang tua yang sebelumnya jarang ke mesjid atau tidak pernah ke mesjid. Dari wajah mereka terpancar rasa gembira. Maklum, masih awal Ramadhan, yang mereka sebut dengan bulan suci, bulan diampunkannya dosa, bulan berkah dan lain sebagainya.

Namun di jantung desa itu terlihat sebuah keramaian. Jumlah mereka tidak lebih sedikit dari penghuni mesjid tadi. Para orang tua dan beberapa anak muda duduk di atas bangku panjang. Di depan mereka masing-masing terhidang segelas kopi warna hitam pekat. Sesekali mereka meminumnya. Tak banyak mereka bicara. Tapi kadang terdengar suara tawa dan ribut. Raut wajah mereka sering berubah; serius, senyum, berharap dan khawatir. Di sekeliling mereka tak banyak pula orang berdiri; para bocah, anak muda dan sedikit ibu-ibu. Mata mereka tertuju pada satu arah. Kelihatannya mereka sedang terhipnotis. Ya, film telah membuat mereka lupa memenuhi kebutuhan rohani yang sesungguhnya. Kehadiran bulan yang mulia ini seakan tidak membawa pengaruh apa-apa bagi mereka. Dia hadir atau tidak, itu sama saja. Jadwal untuk menyaksikan akting para selebritis itu sudah tak bisa lagi diganti dengan ibadah walau hanya satu menit. Meski mereka bukan para selebritis, namun tayangan dunia selebritis seakan sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Tiba-tiba… terdengar suara-suara gaduh dan teriakan orang-orang yang berlarian dari arah mesjid, seakan mereka ingin menyerang musuh. Suara itu semakin mendekati kedai kopi yang lagi ramai dikerumuni para maniak selebritis itu. Para penghuni kedai menoleh ke belakang. Semuanya bertanya-tanya: “Ada apa ini! Jangan-jangan kami mau diserang orang-orang fanatik…!” Oh, tidak. Ternyata anak-anak yang mengenakan sarung dan peci itu ingin bergabung ke dalam shaf penghuni kedai kopi. Mereka lega.

“Aduh, kita nggak kebagian tempat lagi nih!” gerutu Ahmad pada teman-temannya.
“Kita terobos saja ke depan” kata yang lainnya.
“Hei. Hei… ada apa ini! Kalian ini datang-datang, mengganggu, bikin ribut. Tau nggak orang lagi nonton!” Ibu Laila keberatan.
"Ya, kita sama-sama mau nonton bu,” gumam Ahmad
“Hei anak-anak!” teriak kakek tua dari dalam kedai “Kalau mau nonton di depan, datangnya yang cepat. Jangan terlambat”
“Tapi kami shalat tadi kek” Anak-anak itu beralasan. “Kakek sudah…”
“Eh, dengar, dengar!”. potong kakek itu “Saya saja belum shalat. Ayah kalian juga nggak shalat kan? Lagian kalian ini kan masih anak-anak. Shalat itu belum penting buat kalian….”
“Sudah, sudah…, jangan berisik! Anak-anak ingusan kayak gitu kok diladeni” Celoteh pak Anwar.
***

Azdan Isya kembali berkumandang, memanggil anak-anak Adam untuk rukuk dan sujud kepada sang Khaliq. Tapi suara adzan itu sepertinya tidak membuat hati penduduk desa ini sadar akan kewajibannya, kecuali segelintir orang. Adzan sudah seperti angin yang lalu lalang. Televisi di kedai sana membuat mereka lupa segalanya.

Ustadz Bakir, imam mesjid yang baru datang dari pesantren itu penasaran. “Jamaahnya berkurang drastis. Tadi Maghrib, yang shalat ada sekitar delapan belas orang. Sekarang kok tinggal sepertiga. Ada apa ini?” pikirnya penasaran.

“Masjid kita kok cepat sepi ya pak” Tanya ustadz pada Ali.

Wajah pak Ali kelihatan agak sedih mendengar pertanyaan pak ustadz. “Saudara-saudara kita memang sedang diuji pak” jawabnya “Sekarang tidak sedikit ummat Islam yang jadi korban oleh hiburan-hiburan media massa. Artis sudah lebih diidolakan daripada para shahabat dan tokoh-tokoh Islam, bahkan Rasulullah saw.”
“Buktinya pak?”
“Ada nggak di antara mereka yang kenal dengan shahabat Nabi yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari atau Salman Alfarisi? Sedikit…! Tapi kalau nama para artis ditanya, jangan heran ustadz! Artis mana yang mereka tidak tahu di belahan bumi ini? Poster-posternya mereka tempelkan dimana-mana”

Pak ustadz manggut-manggut. Namun dia masih penasaran, seperti apa sih keadaan mereka yang nonton itu? Yang ditonton juga semacam apa? Jangan-jangan tayangn-tayangan pembodohan.
***

Usai shalat taraweh, Ustadz Bakir dan pak Ali sudah ada di kedai kopi. Tapi tidak ada ada tempat duduk. Mata mereka ‘mutar-mutar mencari bangku kosong.

“Tumben pak ustadz datang kesini?” Pak Suhel, sekretaris desa itu menyindir. “Pak ustadz, kesini mau nonton atau ceramah? Kalau mau nonton, ini bukan tontonan untuk ustadz. Apalagi sebentar lagi mau ditayangkan film Dollywood. Tapi kalu mau ceramah, kita kan sudah menyediakan mimbar mesjid untuk khutbah. Saya rasa itu sudah cukup.”

“Pak Suhel, pak Suhel…” Komentar pak Maemon dengan senyum “Ustadz ini nggak salah nonton acara-acara kayak gini. Beliau kan sudah ada amal yang bisa membantu dalam kubur nanti. Kita yang tua-tua di kedai kopi ini, udah nggak ada amal masih aja ngeributin orang-orang yang mau memperbaiki kita.”

“Ah, kamu sama saja dengan penceramah. Sebaiknya kamu di mesjid saja.” Ujar pak Suhel yang hanya berpendidikan paket B itu.

“Betul, betul” Kata timpal pak Anwar dari belakang.
“Ya, setuju…!” Sambut yang lain dari dalam kedai dengan senyum tidak bersahabat, sementara mata mereka tetap terjuju pada layar televisi.

Pak ustadz yang masih berdiri mulai angkat suara dengan nada lembut: “Kita sebagai pemimpin dan orang tua, perlu membela ummat dan generasi….”
Lagi-lagi pak Suhel berdiri memotong pembicaraan dengan nada tinggi: “Membela apa?! Apa pemimpin desa ini menindas rakyatnya?!” Mata penghuni kedai itu serentak terarah pada mulut pak Suhel. “Jangan mengada-ada pak ustadz. Itu tanda-tanda munafik….” Lanjutnya

“Eh pak, tolong tenang pak! Bapak jangan salah faham” Pak Ustadz mencoba menenangkan pak sekdes itu.

“Cukup….!” Pak Maemon berdiri mencoba meredakan. “Ini bukan tempat berdebat. Kalau mau berdebat, kita buka nanti forumnya. Saya yang akan jadi moderatornya. Biar tidak terlalu tegang, kita hadirkan nanti pelawak dan penyanyi untuk menghibur” Mendengar kata-kata pak maemon, semuanya senyum dan tertawa. Perhatian mereka bukan lagi ke tayangan telepisi.

Ustadz Bakri dengan tenang melanjutkan: “Saya mintak maaf pada semuanya, telah mengganggu kalian. Tapi mohon beri saya waktu mengungkapkan satu kalimat. Maksud saya tadi pak Suhel, kita harus memperkenalkan agama dan ilmu pengetahuan pada semua lapisan masyarakat, itu dapat menjamin kesejahteraan. Nggak ada salahnya kan pak?” ujar pak ustadz sambil berpaling.

“Eh tunggu ustadz! Kita belum selesai.”

“Bapak ke rumah saya saja, kita ngobrol sambil minum kopi. Pintu rumah saya terbuka dua puluh empat jam untuk bapak”

“Sudah, sudah…. Biarin aja dia pergi! Lebih enak nonton film. Iya kan anak-anak?” Ujar pak Anwar sambil sedikit ketawa.

Anak-anak itu hanya tersenyum tanpa komentar.

“Eh, kalian tau tidak ajaran Islam kayak apa yang dibawa ustadz baru itu. Tasawuf kah, ajaran madzhab kah, syi’ah, sunny, liberal, ahmadiyah… atau apa? Kalau yang dia ajarkan kepada masyarakat dan anak-anak kita nantinya ternyata faham yang berseberangan dengan kita. Apa kita harus tinggal diam?” Pak Suhel tidak puas.

“Eh, shalat hanya sekali seminggu, tp ternyata pak Suhel ini punya bakat juga jadi da’i….” Sindiran pak Maemon membuat pak Suhel gerah. Sementara yang lainnya menertawakan pak sekdes itu.

“Menurut saya” Pak Maemon melanjutkan, “kita tidak perlu menyalahkan orang yang mengamalkan Islam menurut kadar pemahamannya sementara kita sendiri sebaliknya. Karena pengamalan itu adalah sebuah bukti ketaatan kepada Pencipta. Justru sebaiknya kita mengoreksi diri sendiri, sejauh mana pemahaman dan pengamalan kita terhadap agama milik kita ini....”

“Ya, ya, ya…. Pak Maemon benar. Nggak sia-sia pak Maemon merantau ke luar negeri.”
Pak Suhel mengalah. “Eh, kita lanjutkan filmnya!” Lanjutnya mengalihkan perhatian.

“Filmnya sudah hampir habis pak!” Sahut Ahmad dari belakang.

“Ha, ha, ha…..” Semuanya tertawa.

“Hhh… Emangnya ada yang lucu…?!!” Gertaknya. Semuanya diam, takut.

“Ha, ha, ha….” Tawa pak sekdes meledak disambut tawa yang lain.

Setelah tiga hari kemudian, ustadz Bakir, pak Suhel, pak Maemon dan Ali semakin sering duduk bersama-sama di kedai kopi. Suasananya tidak lagi tegang. Setiap hari teman duduk mereka semakin bertambah, sehingga butuh tempat yang lebih luas dan kondusif untuk berbagi rasa dan wawasan keagamaan.
(By: Penulis Amatiran/Peace, kalau tidak memuaskan! Namanya juga amatiran, he he he....)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).