Ada kesalahan di dalam gadget ini

15.11.09

Cintaku di 80 Coret (1)

Pagi nan mendung. Bulu kuduk berdiri merinding kedinginan. Padahal masih musim panas. Cuaca hari ini mengelabui penduduk kota. Selama tiga bulan lebih putaran kipas angin dan AC berkecepatan tinggi non stop di hampir semua rumah. Peralihan musim panas ke musim dingin ternyata bak jarum es menusuk sukma. Pagi ini, keperawanan kota Cairo masih terjaga karena belum dijamah oleh keributan dan macet di setiap ruas jalan. Aura ketenangan terpancar di sana-sini. Bukan penduduk Mesir saja, bahkan mahasiswa-mahasiswa pendatang dari seluruh belahan bumi masih asyik dalam buaian mimpi.

Beda halnya dengan Nanda, semenjak kemarin sore mukanya seolah dipenuhi masalah. Seperti pemilik kedai melihat piutang yang menumpuk di penghujung bulan, barang dagangan tak tersisa sedikit pun.
Makan dan tidur terabaikan begitu saja. Posisinya masih seperti 15 jam yang lalu. Tas tergeletak di samping pintu kamar, dan sekujur tubuh bagaikan pohon tumbang terkapar sia-sia menghadap loteng.
"Gimana, Bro, kok masih kayak udang di penggorengan aja, dari kemaren sore meringkuk terus?" Tanya Heri menyentakkan lamunan teman akrabnya.
Nanda masih dibungkus penyesalan. Kejadian semalam membuat Nanda linglung. Semalaman ia termenung dan meratapi kebodohannya.

"Udalah, Bro... Jangan terlalu dipikirin. kalau memang dia suka sama kamu, gak akan kemana. Pasti nanti ketemu lagi." Ungkap Heri menenangkan pikiran temannya yang lagi gundah gulana.

Setelah beberapa menit kemudian, Heri melihat sahabatnya ini memang belum bisa diganggu.

"Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu. Jangan lupa makan. Cinta mah cinta, tapi jangan sampai makan juga lupa." Celetuk Heri sebelum berlalu.
"Kamu pandainya ngomong doang." Jawab Nanda dalam hati .
Pinta Heri agar makan seolah angin yang muncul dari selokan rumah makan; bau dan dipaksa agar menyumbat hidung. Pikirannya justru makin tak normal. Jadwal masaknya pagi ini telah Heri gantikan. Karena menunggu Nanda masak sama saja menunggu emas turun dari langit. Cinta memang bisa mengubah yang waras menjadi tidak waras. Apalagi yang awalnya tidak waras..?!

"Coba kemarin aku pastiin. Apa dia benar suka sama aku..? nomor Handphonennya kuminta. Agghhhh…" sesalnya dalam hati.
Fatimah.. begitulah teman-temanya memanggil gadis Malaysia yang sekarang duduk ditingkat akhir syariah islamiyah ini.
Pikirannya melayang menembus dinding rumah. Badannya seolah ada di Bus 80 coret. Pertemuannya dengan Fatimah semalam, rasanya baru semenit yang lalu.
***

"Heri, teman kamu kemana?" tanya Jamal ingin tahu dengan dialek melayunya yang khas.
"Nah..kebetulan banget nih, Mal." Sambut Heri sambil mendekap bahu Jamal.
"Kamu kan satu daerah sama Fatimah.” Lanjutnya menodong. “Dan si Nanda, temanku itu sudah terjerat cintanya Fatimah."
"Hah..?” mulut Jamal menganga saking kagetnya. “Jadi..,” Jamal menerka-nerka, menggantung kalimat. “Ah, nggak mungkin, Her. Masa Fatimah jatuh cinta sama Nanda..? ana gak percaya." Sanggah Jamal setengah shock.
"Lagian mereka ketemu dimana, Her..?" selidiknya.
"Agghhhh… kamu payah bangat sih. Ketemunya di bis 80 coret.” Jawabnya singkat. “Kamu bisa bantu nggak..?" tanya Heri memastikan.
"Ha ha ha…" tawa jamal meledak. "80 coret..?" ulangnya dengan nada meledek Heri.
"Eeh…, kok kamu malah ketawa, Mal? Asal kamu tau yah, presiden Amerika, Barack Obama ketemu istrinya juga di Bus 80 Coret. Presiden Libya juga, ketemu sama istrinya di Bus 3 Jim, pas mau ke Hay Asyir." Ceramahnya berapi-api meyakinkan Jamal.
"Ha… ha… ha… ngawur kamu tuh, Her." Ketawanya Jamal makin menjadi-jadi.
“Kita duduk aja dulu. Bising.” Ajak Jamal sambil berjalan ke taman depan Fakultas Syariah Islamiyah. Mereka pun berjalan menuju tempat duduk yang berbentuk bundar mengelilingi pohon hias di pinggir jalan kampus tersebut. Maklum, musim panas begini semua serasa membakar. Belum lagi orang Mesir ngobrolnya kayak lagi orasi. Dua orang yang ngobrol tapi suaranya kayak seperti puluhan orang yang lagi demonstrasi, bikin suasana hati semakin mendidih.

"Ana juga gak tau gimana pastinya, Her." Ungkap Jamal mengawali perbincangan mereka.
"Cuman, sejak kemaren. Si Fatimah juga dengarnya lagi jatuh cinta, gitu. Tapi aku kirain sama Bang Fadhli, yang sekarang baru masuk tamhidi S2 di Zamalek."
"Siapa..?" tanya Heri kaget dengan mata melotot.
"Fadhli, beliau dari Kedah juga. Satu daerah juga dengan Fathimah. Tapi nggak tau lah, Her."
"Waduh, kalau sampe yang kamu bilang benar, bisa gawat nih." Komentar Heri sambil megang kepalanya. "Habis, mulai dari kemaren Nanda gak keluar dari rumah tuh."
"Kenapa?" Tanya Jamal ingin tahu, memfokuskan pandangannya tepat di mulut Heri.
"Itulah yang tidak bisa kujelaskan,” ujarnya pasrah sembari menarik nafas dalam-dalam. Tapi kalau ditanya, Nanda hanya bilang "Fathimah itu benar gak, Her suka sama Aku?"

Jamal terdiam. Pandangannya kembali ia palingkan ke arah pintu utama Fakultas Syariah Islamiyah. Matanya sambil melihat ulah konyol orang Mesir yang lagi perang urat syaraf dengan omongan yang tidak dimengerti.

Sedangkan Heri masih belum percaya dengan cerita Jamal tadi. Dia teringat sama Fadhli, seniornya Fathimah.

"Apakah itu benar?" bisiknya dalam hati. "Ahg…, moga saja tidak,” lanjutnya membatin.
"Her, tengok orang Mesir tuh.” Serunya sambil menunjuk. “Semuannya kayak anak-anak. Padahal jenggotnya lebat gitu."

Heri terbangun dari lamunannya. Setelah pikirannya melayang memikirkan keberadaan sahabat dekatnya, Nanda.

"Tapi aku yakin. Syaikh Ali Jum’ah dulu gak seperti mereka itu." Celoteh Heri ikut-ikutan menonton ulah mahasiswa Mesir tersebut.
"Ha ha ha…" tawa mereka pecah.
"Aku duluan yah, Her. Mau muhadharah dulu. Kamu masuk nggak..?" tanyanya dengan nada mengajak.
"Memang maddah apa, Mal…? Fiqh Maudhu'i yah..?"
"Yup! Ikutan nggak…?” Godanya.
Heri terdiam sebentar. "Aku gak masuk, Mal. Mau langsung pulang aja." Jawabnya sekenannya.
"Dasar! Malas terus." balasnya enteng sambil berlalu. Heri tersenyum kecut, matanya mengikuti kaki jamal menaiki anak tangga satu persatu.

Bersambung...
****

(by: Sufrin Efendi Lubis)

1 komentar:

  1. Alhamdulillah, tarimokasih mada Bayo Lubis :)
    CINTA!!!, pastinya aku pualing gak bisa ngasih comment klo ngomongin CINTA, coz memang bukan ahlinya, "bukankah suatu urusan hrs diserahkan sama yg ahlinya" (hehe... pembelaan diri).

    Tapi stlah aku simak cerpennya, aku liat adanya "LEMON TEA SPECIAL" gt.
    Segeeer bgt dech bagi yg minumnya :)
    karena memang dibuat dgn 5 Rasa :
    1. PerSAHABATtan
    2. TAWA
    3. KeIKHLASan
    4. KeberSAMAan
    5. KasiH-Sayang
    Muanieze kHan? Hayo diMinum, msH bnYak.
    Eits... jGn luPa bYr ya,,,
    siLahKan bYr dgn snYuman :)

    BalasHapus

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).