Ada kesalahan di dalam gadget ini

16.11.09

Cintaku di 80 Coret (2)

"'Ala gambak ya asthoh…" pinta Nanda ke pak supir. Kemudian dia turun dan langsung menuju Mesjid al-Faruq, Musallas yang terkenal dengan cat merahnya.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," bisiknya dalam hati diikuti senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.

Nanda pun langsung menuju tempat wudlu yang ada di samping kanan mesjid. Setelah selesai berwudlu, Nanda masuk ke mesjid dan langsung masuk ke shaf jama'ah yang lagi shalat. Namun, dia tidak mendapat jama'ah kecuali satu rakaat lagi.


Sebenarnya musim panas begini, kalau bukan karena perlu sekali orang nggak akan keluar rumah. Pagi tadi dinginnya sangat luar biasa, tapi sore ini panasnya serasa membakar sekujur tubuh. Kalau hanya kebutuhan biasa, biasanya orang menunda dulu sampai panasnya redup karena tidak tahan dengan sengatan panas mentari. Nanda tetap ingin bertemu denan Fathimah, gadis yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Gadis itu tinggal di daerah Musallas dan ia tinggal di Suq Madrasah, daerah setelah Musallas. Panasnya matahari tidak lagi ia hiraukan. Demi cinta yang belum pasti. Seteleh selesai shalat Ashar, Nanda melemparkan pandangannya ke sudut kiri mesjid dan berhenti di pintu masuk mesjid sebelah kiri. Dia melihat bayangan seorang akhwat lewat di depan pintu mesjid.

"Fathimah…?" Panggilnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan mempercepat langkah untuk menyusul. Jantungnya berdegup lima kali lebih cepat dari biasanya. Setelah sampai ke pintu, bayangannyapun tak tersisa. Nanda terdiam. Keinginannya yang besar untuk bertemu Fathimah sore ini membuatnya berhalusinasi.
“Aku belum siap mendengar jawaban dari Fathimah, kalau ternyata perkataannya kemarin itu tak lebih dari canda dan persahabatan.” Nurani dan keinginannya beradu, antara pulang dan lanjut ketemu Fathimah. Bimbang menguasai hatinya. Akhirnya, keinginannya untuk ketemu Fathimah sore ini dibatalkan. Berhubung cuaca kurang bersahabat. Maklum, lagi peralihan musim. Juga karena ketidaksiapan Nanda jika menerima kemungkinan terburuk dari keputusan Fathimah.

Setelah 30 menit sabar melewati jalan raya Cairo yang macet total dari Musallas ke Sabi', akhirnya penderitaan tersebut berakhir. Sempit dan bau yang bermacam-macam di bus hilang seketika melihat kehadiran Fathimah di depan pelupuk matanya, yang baru saja naik di mahattoh Hay Tsamin, tepat dimana mereka ketemu kemarin dan juga sebelum-sebelumnya, pertemuan yang tidak pernah dijanjikan. Mereka berdua saling pandang. Nanda salah tingkah, mau mendekat malu dan grogi. Karena Fathimah bersama temannya, Rahma melihat gerak geriknya.

"Dasar cinta." Celetuk Rahma geli melihat tingkah keduanya.
Nanda keringat dingin. Apalagi melihat Fathimah mendekat ke arahnya. Ia nggak habis pikir, gadis melayu setahunya adalah pemalu. Tapi, semuanya dapat berubah seketika.
"Abang..," panggil Fathimah lembut seraya mengulurkan sepucuk surat ke tangan Nanda. "Adik tunggu balasannya." lanjutnya dengan sesungging senyum manis di bibirnya yang tipis.

Nanda meraihnya dengan tangan gemetar. Keringat dingin meluap dari pori-pori kulitnya. Dimasukkannya surat beramplop biru dengan motif bunga menghias pinggirnya ke tas lusuhnya. Ada perasaan tak sabar ingin segera membacanya.
“Dek Fathimah mau ke masjid Azhar yah?” tanyanya memecah bola kesunyian yang mengepung mereka. Dan kebetulan bis 80 coret yang lagi mereka tumpangi sekarang sepi penumpang. Fathimah hanya menganngguk seraya tersenyum, membuat hati Nanda kebat-kebit melihatnya. Kebiasaan Fathimah dan kebanyakan mahasiswa Malaysia sangat suka talaqqi di masjid Azhar selepas jam-jam kuliah. Mendengarkan kuliah-kuliah agama dari Syaikh-Syaikh Azhar yang tidak diragukan lagi kapabilitasnya.
“Abang mau ke Azhar juga ya atau mau kuliah?” Fathimah balik nanya. Membuat Nanda kelabakan.

“Oh, iya. Abang mau ke masjid Azhar juga. Hari ini abang tak ada maddah,” jawabnya cepat. Padahal tadi ia naik bis ini dari Hay ‘Asyir tanpa planning apapun selain hanya untuk menghibur hatinya yang sedang gundah-gulana. Gak tahunya berjodoh lagi se-bis dengan Fathimah, gadis pujaannya. “Apa ini artinya jodoh?” Nanda membatin, tapi sudut bibirnya tersenyum dalam harap. Dan jauh di lubuk hatinya ia berdoa agar bis ini tidak segera sampai ke Darrosah. Ingin rasanya menghabiskan seluruh masa dalam perjalanan di bis 80 coret dengan orang yang dicinta meskipun dibalut diam dan kebisuan.

***

Nanda buru-buru pulang ke flat. Sepucuk surat dari Fathimah telah menjadi jawaban dari kerisauannya selama ini. Tempat jualan ayam di depan flat yang baunya minta ampun, tiba-tiba berubah menjadi parfum casablanca yang menerobos dinding hidung mancungnya. Perutnya yang dari kemaren sore belum diisi apa-apa langsung kenyang. Seringnya dia bertemu dengan Fathimah di bis 80 coret telah menumbuhkan bibit cinta di hatinya walaupun mereka jarang bertegur sapa. Fathimah yang selalu menyempatkan waktunya untuk talaqqi di mesjid Azhar sepulang kuliah, hampir selalu bertemu dengan Nanda di bis 80 coret, karena jam masuk kuliah Nanda sore hari bertepatan dengan jam-jam berakhirnya mata kuliah di kuliah banat. Tempat pertemuan mereka di mahattoh Awwal Sabi’, depan kuliah banat dan berakhir di mahatoh Darrasah, dekat kuliah banin dan masjid Azhar.

Tanpa salam, Nanda langsung masuk kamar dan menutup pintu dengan rapat. Heri dirundung rasa bingung. Kejengkelannya terhadap teman akrabnya ini makin menjadi-jadi setelah melihat sikapnya yang menyebalkan.

"Gara-gara Fathimah, semua jadi berantakan gini." Umpatnya dalam hati.
Nanda gemetar dan takut membuka surat Fathimah ini. Tangannya seakan kesetrum listrik, lidahnya pun kaku dan matanya terfokus ke sebaris tulisan di sampul luar. By: Fathimah binti Sulaiman. Dimulainya membaca dengan penuh penghayatan.


Salam untuk, Abang.

Sesunguhnya berat bagiku sebagai gadis melayu untuk menggores di selembar kertas putih ini. Namun, Adik juga tak dapat menyimpan rasa ini. Apalagi sampai membohongi perasaan ke Abang. Adik tak bisa menulis surat cinta; moga coretan pendek ini abang faham. Semuanya adik tuangkan dalam puisi ini.
Cinta.., memang aneh dan gila, asinnya garam, manis seketika.
Cinta.., aku melayang di alam mimpi, membuat semuanya menjadi indah dan sejuk.
Cinta.., jangan menjauh dariku, silahkan mendekat kepadaku.
By: Fathimah binti sulaiman

Nanda tenggelam dalam bingkai kata-kata Fathimah. Saking senangnya, hampir dia tidak bisa meneruskan bacaan ke paragraf selanjutnya. Ibarat seorang anak dikasih es krim setelah lama merengek. Bait demi bait ia fahami dan hampir semua isi surat telah Nanda hafal. Setelah selesai membaca surat tersebut, Nanda seakan berasa di syurga dunia. Jiwanya dipenuhi bunga-bunga cinta. Semua menjadi sejuk dan indah. Ternyata Fathimah memang juga mencintainya.

Sejurus kemudian, Nanda mengambil kertas dan pulpen yang ada di atas meja belajar. Dengan gamang, Nanda berusaha merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang mengandung makna cinta yang dalam. Nanda benar-benar fokus stadium akhir dalam menulis surat ini. Sudah lama dia tidak menulis surat seserius ini. Apalagi setelah berkembangnya teknologi. Orang-orang saling merayu dan menggombal via chating atau SMS. Tapi, mereka kembali seperti zaman dulu. Dengan secarik kertas yang penuh dengan bumbu-bumbu cinta. Nanda dan Fathimah memulai menjalin cinta. Jari-jari Nanda menari-nari dalam merangkai kalimat yang penuh dengan cinta yang tulus.

Bermacam umpatan dan celetukan dari ruangan tengah dia abaikan. Kejengkelan Heri pun menjadi-jadi. Akhirnya Heri capek sendiri. Dengan terpaksa, dia membereskan ruangan yang kelihatan kumuh dan kotor. Heri habis akal, dan omelannya dicuekin temannya begutu saja. Tapi, memang yang dia tau Nanda lagi tidak stabil karena cintanya ke Fathimah, gadis Malaysia itu.

Wa'alaikum salam buat Adinda
Inginku naik ke gunung Uhud, tuk' memberitahukan pada dunia akan kebahagiaanku. Orang yang ku tak sangka telah menjeratku ke dalam mahligai cinta. Pertemuan kita di Bus 80 coret sungguh sangat bersejarah. Membuatku betah hidup di negeri Kinanah.
Adinda Fathimah…
Bahagiaku tiada tara..,Terobati sudah gundah gulana yang sempat merasuki dada dan jiwa. Sepucuk surat adinda, telah melebur kegelisahan jiwa abanganda.
Ingin kukatakan, arti cinta kepada dirimu dinda
Agar kau mengerti, arti sesungguhnya
Tak akan terlena dan terbawa alunan bunga asmara
Yang kan membuat dirimu sengsara
Cinta suci luar biasa, rahmat sang pencipta
Kepada semua hamba-hambanya
Jangan pernah kau berpaling dari cinta
Cinta dari sang maha pencipta
Kau pasti tergoda
Terimakasihku padamu 80 coret.
By: Nanda Ahmad

Nanda melipat surat balasannya hati-hati, dimasukkannya ke dalam amplop berwarna biru langit, secerah nuansa hatinya saat ini akan masa depan cintanya. Dan besok sore ia akan memberikan surat itu buat orang yang telah mencuri hatinya di tengah-tengah sempit dan sumpeknya 80 coret. Bus idaman Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) karena rutenya adalah daerah-daerah tempat tinggal, pusat organisasi dan tempat kuliah kebanyakan Masisir. Bus 80 coret telah “mencopet” hatinya. Tak sabar rasanya menunggu esok tiba. Nanda pun tertidur dalam balutan mimpi indah.

SELESAI ....

(by: Sufrin Efendi Lubis)

13 komentar:

  1. margandak dei langa dongan par azhari...ah nabangsat2 mai..

    BalasHapus
  2. na oto ma na mangomentari on,,,ulang ligin sian sisi negatif nai sajo dabo mamak,,(pala adaboru ete) anggo di ligin ko sian sisi negatif nai sajo inda adong na jop rohamu paida halak narittik.hami pe manusia do tapi..inda na malaykat ..lagian sekirana pe margandak langa mangua???tapi inda na sarupo dohot cara ni halak na margandak sannari on..sampe berdua2an...inda na giot magait...atau mangubar2 nafsu...suka terhadap lawan jenis kan fitrah de i...marfikir ulang ko jolo kawan...anggo inda senang ko komentar ku on...hubungi au...indo no HP ku...+20112334364

    BalasHapus
  3. Bung Lubis....Bagus juga cerpen sohib...tetap jaga etika penulisan...tidak usah terpengaruh komentar yang kurang mengerti seni...kualitas tulisan sohib untuk dikirimkan pada Majalah dan koran di Negara Kita...sebab konsumen cerpen Indonesia membutuhkan cerpen beraroma roman religius...dan salam untuk ananda AMAN hs (wildanansyori@yahoo.co.id)

    BalasHapus
  4. Tarimakasih atas coment nai. Awalnya saya tidak mau mengomentari kritikan dari teman sayang perhatian ini. Cuman, kalaulah dia mengkritik saya peribadi, insya Allah akan saya terima dengan lapa dada(kalau dengan cara yang bisa diterima juga tentunya. Mudah2an nian jd pelajaran untk ke dpan. Cuman sahotik boto dongan, tujuan mangirim kritikan tak luput sian 2 hal (biasanya, LOH). Kalo bukan untk membagun, berarti untuk mandabuon. Sifat kawan yg terlalu transparan dalam mengkritik tersebut terindikas hanya untuk mementahkan dan memjokkan. Sekiranya kandungan cerpen tsb bukan fiktif kawan; jujur kawanku, kamu masih salah dalam metodenya. Atau dalam ungkapan lain boleh dikatakan , "kalimatul hak yuridu bihi al-bathil." Intinya kawan, kalo memang mau mengutarakan saran ato kritikan yg konstruktif silahkan jgn mengabaikan sikond, cra yg lbh tepat dan bhasa yg lbih halus.
    kawan... Tp bukan malah memecahkan gelas kaca dan menaburkan keping2an kecilnya kelantai keramic. Ada satu pepatah kawan. ' i'tadzhir bi akhik alfa udzrin.. اعتذر بأخيك ألف عذر،،، Mg kau kawan faham kandungan pepatah tuh.
    anda bukan mengkritik saya, kalau hanya saya :never mind kawan: tadi anda membawa nama AL-AZHAR. Dan boleh saya bilang anda salah besar.
    syukran lak. Moga masukan ini bukan malah membuat kita kalang kabut, tapi orang yang faham pepatah arab di atas itu pasti akan terkesima mendengarnya.
    Wassala. Sufrin Efendi Lubis

    BalasHapus
  5. satu lagi... kandungan cerpen itu taklebih dati fiktif belaka kawan. lain kali tolong lebih selektif memilih kata2 bias tidak jadi benalu dalam persaudaraan.

    maaf kalau kurang berkenan. wassalam

    BalasHapus
  6. pendekar sejati,,,
    السلام عليكم........

    (novel)
    wahhhhhh...
    trimakasih ya novelnya,,,
    mantap bener.. setiap kalimat rasanya menggugah hati dan jiwa ,,, jadinya saya ini kayak punya calon dech kl gini...
    soalnya udah lama nih jadi jomblo,, wakakaka
    mudah mudahan saya bisa kayak novel ini.. tapi kl blh jangan bus 80 coret,,,
    soalnya udah padat, bauk, haromi, berdiri pula mulai dari naik bus sampe turunnya....
    hehehe



    ( comen ),,,

    hahahahah ....
    botul madai nadi dok ni pakkomon naparjolo..
    parazhar dongan marganda' mattongan ni??
    tapi jawab naipe botul juodobai,,,
    songon laguikan masisir juga manusia...
    cuman cara manjawab nai nakojam kubegei....
    jadi taringot ibada dabo film ni KCB'i..
    9 thn di mesir inda marna lulus,, aha do rupana namarganda' sajodo karejonia dimesir...
    wakakakak

    ehhhhhhhhh
    satu lagi novelnya kok udah selesai sih masih tanggung nih bacanya...
    sambung dong

    BalasHapus
  7. kok jadi rame kek gini bro....ini nih besi bulat, sekalian berantam aja... keritik itu wajar dan ada benarnya juga tu, pacaran kan memang gak ada dalam islam walaupun muslim itu manusia dan bukan malaikat, makanya aa gak mau pacaran wekkekekek...kalau kita menganggap kritikan itu tidak jantan maka tanggapilah dengan sesuatu yang lebih baik, cerminkanlah kalau blog ini punya orang2 pintar dan berbudi..(HATOBANGON FOSTIMPALA)

    BalasHapus
  8. Hahaha.. Itu lah makanya kawan. Berarti uda ketahuan cra ngumpulin kita ke fostimpala ini. Kalo gak ada yg kayak gni, mgkin ada di antara kita yg tak buka brog sebulan. Nah, intinya. Thanks deh untk kawan pengkritik pertama.

    Tapi buat kawan ismail'n... Kan uda ana bilang, isi cerpen it tak lebih dari fiktif kawan, skedar khayalan n menguji imajinasi. Dan saya tak melhat ada kejadian gitu. Trus.. Bukan kita tak terima kritikan kawan, asal kritikan yg konstruktif. Kalo kita mengatakan azhar, itu sama halnya mengatakan saya, anda, bhkan teman yg gak tau menau sekalipun. Kritik it wajar, tapi juga bisa menjadi tidak wajar manakala disajikan dgn cara yg kurang tepat. Namargandak delai par azhari, nabgsat mai? Kan ungkapan yg tak layak itu kawan. Coba kawan sajikan dgn kata yg lebih bersahabat. Saya rasa kita semua faham juga arti tatakerama.

    Banyak hal yg baik menjadi jelek n tak bernilai karna cra dan metode penyampaian yg kurang pas. Trus juga, kita tidak mementahkan kritikan kawan yg di atas itu. Tapi hanya skdar memberikan solusi ke hal yg lbih tepat menrut kami. Jadi, ya harapan saya jangan kita perpanjanglah. Cukup sampai di sini aja. Ntar kalo orang di luar forum baca pertgkaran kita ini, tentu sangat kurang bgus. Jadi, ulang adong be na pagara2 api ateh,,, hita cukup kon mai ateh.
    Mangido maf dongan-dongan da.
    Selamat iedul adha mada ateh tu maradu kaum2.
    Wassalam.

    BalasHapus
  9. tu ust moderator. anggo baen na hurang pade isi ni cerpeni.. di cabut sian postingan. muda na hurang jeges ust. harana masukan sian dongan na pertama ipe porlu dei di perhation. tarimakasih ust moderator

    BalasHapus
  10. bagi pengkomen yang nulis nama saya diatas, ia akhi kita sudah tahu ini cerita adalah fiksi dan bukan kisah nyata, itu sudah dibilang penulisnya, tapi walaupun ia fiksi, setidaknya karena melibatkan komunitas disitu ada pencitraan, krakter di cerpen ini adalah mahasiswa azhar dan ini menyangkut citra mahasiswa azhar..termasuk saya..apalagi tulisan ini dibaca orang yang gak ada dimesir ini bisa negativ thinking jadinya nanti..makanya saya sarankan bagi komentator kalau kasih komentar kalau bisa dari blog masing2lah atau walaupun anonim dikasih aja nama aslinya biar jelas identitasnya dan bertanggung jawab..jantan donk coy...janagna da yang tersinggung ya..ini hatobangon

    BalasHapus
  11. wew
    wew
    wew

    dengan mata melotot...mencoba untuk baca kata demi kata dari koment2 diatas (SURE cerpennya aja baru baca hari ini tentunya dengan koment2nya)....kenapa bisa se-panjaaaaaaaaang gituuuuu ceritanya....
    (kabuuuurrrrr g ikut2 an)

    to sufrin : sebaik dan sebagus apapun yang kita lakukan dan yang kita hasilkan kritikan pasti ada....jangan pernah menyerah...SEMANGATTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  12. pecinta dan penikmat sastra...hehehe..di tunggu karya2 selanjutnya... :D

    BalasHapus
  13. sekali lagi ah ikutan koment hehehe....

    sesuai dengan saran diatas,,,koment lewat blog masing2...tadi kelupaan....dan memang sering lupa klo punya blogspot sendiri :P (jarang dibuka)..afwan :)

    BalasHapus

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).