Ada kesalahan di dalam gadget ini

19.3.09

Muhammad Saw My Choice; Mengenal Kepribadian Sang Nabi

Islam telah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya akhlak mulia. Akhlak mulia menjadi cermin diri dan sucinya jiwa, akankah kesempatan menjadi orang baik yang sudah terbuka lebar kita lepas begitu saja..?! Menjadi sosok yang peduli dengan sesama telah kita sia-siakan tanpa lirih melihatnya. Lari dari kebenaran bukanlah solusi konkrit dari masalah, apalagi lilu di keramaian, sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan kita dipelihara sampai berkembang layaknya tanaman ubi tumbuh subur mekar dengan dedaunannya.

Bertambahnya usia dunia, secara tidak langsung telah memberikan peluang yang lebih terbuka untuk semua manusia dan semua kalangan dalam memahami tujuan hidup yang ideal dan tujuan yang sesuai dengan yang diharapkan. Para pemuda kerap dijadikan sebagai contoh dari kandas landas dari era globalisasi yang tak kenal perdamaian. Dan inilah bentuk rill dari kehidupan zaman sekarang. Terpesona dengan keindahan dunia yang sementara, tak sadarkan diri; tergiur dengan suasana lingkuangan yang kadang kala menusuk dari belakang.

Kenapa pemuda-pemudi kita di masa kini tak ubahnya seperti pesawat yang terbang dengan sayap sebelah? Terombang-ambing ditelan tiupan aingin yang menusuk ubun-ubun. Tanpa sadar telah menodai jati diri sebagai ciptaan yang paling mulia.
Kenapa pemuda-pemudi kita lebih meprioritaskan idola yang tidak ada jaminan ke legalannya dalam agama, dari pada menjadikan sosok panutan alam dan yang telah mendapat rekomendasi untuk pensyafaatan, sebagai idola sejati...?!

Kalaulah para cendekiawan, para pemikir dan para ilmuan yang telah memahami hakikat Islam – yang telah mengetahui hiruk-piuk dan tipu muslihat musuh agama – masih salah dalam memilih idola, bagaimana dengan orang-orang yang jauh dari sinaran ilmu dan naungan peradaban yang menjadi barometer kehidupan?! Dunia yang tiada berdaya telah gelap gulita, seakan manusia dimanjakan, hidup di dunia bagaikan tujuan akhir dari penciptaan dan kematian bukan menjadi hal yang perlu diperhitungkan.

Akankah kita sebagai orang yang faham agama, orang yang akan menyinari kegelapan ini, tinggal diam tanpa mengambil ancang-ancang sebagai langkah awal pengobatan atas penyakit yang telah merasuki jiwa umat ini..?

Bila kita menelaah kembali proses penciptaan alam ini, niscaya kita akan menemukan pelajaran yang sungguh sangat berarti. Karena sejarah adalah renungan masa lalu, panduan dan enlightment di masa kini. Orang yang mau manggali sejarah berarti telah berani membuka rahasia keberhasilan di masa kini dan masa mendatang. Peluang untuk menjadi orang yang lebih baik masih terbuka lebar. Dan memilih idola yang tepat adalah tuntutan Islam pada setiap idividu, bukan untuk para kiyai , para ustadz atau para aktifis saja. Akan tetapi untuk semua kalangan karena Islam untuk semua.

Islam telah memberikan gambaran kepada kita akan pentinganya mengenal Nabi Muhammad saw, memperdalam pengetahuan tentang kepribadiannya dan jauh lebih tahu tentang seluk beluk kelebihannya. Ketika dilihat dari sudut pandang Islam, beliau adalah idola semua umat, idola yang tidak pernah sirna, idola yang mekar setiap saat. Siapa pun yang menjadikannya sebagai idola, niscaya jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat telah manantinya. Karena mengikuti apa yang telah Rasul anjurkan berarti telah mengikuti apa yang telah Allah perintahkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. di dalam Al-Quran surah An-Nisa’ ayat 80:

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia menaati Allah…” (An-Nisa: 80).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas adalah pernyataan kepantasan Nabi sebagai idola. Karena menjadikan Nabi sebagai tolak ukur ketaatan seseorang kepada Allah Swt. mengindikasikan bahwa apa pun yang muncul dari kepribadiannya adalah pantas dan sesuai untuk dicontoh. Beda halnya dengan idola yang kebanyakan kita ikuti sekarang ini, di samping tidak ada jamiman kebenarannya, bisa-bisa menjadikan kita sebagai orang yang telah menodai agama, yaitu dengan sikap acuh tak acuh kita kepada perintan dan larangan-Nya.

Oleh karena itu, kita dituntut supaya memahami lebih jauh lagi tentang kepribadian Nabi Muhammad Saw, mulai dari sifat-sifatnya, dan kelebihan-kelebihan yang telah Allah anugrahkan kepadanya. Sebagian kecil di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah Muhammad Saw Bersifat Belas Kasih
Ketika Rasulullah saw hijrah ke negri Thaif, uluran tangan yang santun dan jiwa yang lapanglah yang beliau inginkan. Tapi, semuannya bertolak belakang dengan apa yang diharapkan, malah lemparan batu mengenai tubuh mulia tersebut, hingga darah bercucuran. Dengan jiwa yang telah dibekali iman, ketenangan pun datang dengan spontan, Rasulullah saw menghadapi semua ini tanpa gentar dan tidak mengeluh. Bahkan tawaran Jibril untuk meratakan perkampuntan ini dengan menghemparkan Bukit Uhud, tapi Rosul menolak dengan ungkapan optimisnya: “Mudah-mudahan Allah membukakan hati orang-orang sesudah mereka terhadap agama ini.”

Sikap belas kasih ini telah beliau aplikasikan semasa hidupnya. Bukan di waktu genting dan sempit saja, akan tetapi sifat mulia ini selalu dijadikan sebagai salah satu bukti konkrit dari kenabian dengan tidak melihat situasi atau kondisi tertentu. Begitu juga sifat mulia ini beliau ajarkan kepada para sahabatnya, sebagai orang-orang yang telah setia mendampingi beliau membawa risalah ini hingga sampai kepada kita. Sebagaimana beliau menasehati para sahabat ketika hendak jihad membela agama Allah, agar tidak melukai perempuan, tidak menyakiti anak-anak, orang-orang yang sudah tua bangka dan sampai tumbuhan dan tanaman sekali pun, serta tidak memerangi orang yang tidak memerangi. Begitulah indahnya sifat belas kasih Rasul yang sudah seharusnya kita jadikan sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kedermawan Rasulullah Saw
Kesederhanaan adalah ciri khas dari kepribadian Nabi Muhammad saw. Sekali pun beliau adalah orang yang telah Allah jadikan sebagai makhluk pilihan dan mempunyai keistimewaan, terlebih sifat kesederhanaannya; tidak menghalangi untuk memperluas ladang amal melalui uluran tangan mulianya kepada orang yang membutuhkan.
Sebagaimana diceritakan dalam sebuah Hadist: “Ketika itu Abdullah ibn Abbas ditanya tentang Rasulullah saw. Ibn Abbas mengatakan Rasululllah saw adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau akan semakin meningkat ketika di bulan Ramadhan” (HR. Bukhori).

3. Kelembutan Beliau Saw
Di dalam catatan sejarah mana pun, kita tidak akan menemukan bahwa Nabi Muhammad itu adalah sosok pemarah dan mudah melayangkan tangannya ke pipi anak, istri atau para sahabatnya. Tetapi yang kita temukan adalah kelembutan dan sikap toleransi yang sangat tinggi.

Sebagaimana diceritakan oleh Ibunda Aisyah bahwa tangan Rasul saw tidak pernah memukul istri atau pembantunya. Akan tetapi Rasul saw melakukan itu hanya di medan jihad, ketika memebela agama Allah (H.R. Bukhori).

Ini adalah sedikit dari sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW, dan masih banyak bukti-bikti dari keistimewaan yang ada pada kepribadian beliau, yang ini dapat kita rujuk ke buku-buku sirah.

Beberapa Tokoh dan Ilmuan Barat yang Bicara Tentang Nabi Muhammad saw
, di antaranya:

1. Jauth (Sastrawan Jerman)
Jauth mengatakan: “Kami di Eropa, dengan semua teorti dan pemahaman kami yang kami miliki, belum pernah mendapatkan sebagaimana yang telah Muhammad dapatkan. Tidak akan ada seorang pun yang bisa seperti dia (Muhammad) apalagi menandinginya. Saya telah melakukan penelelitian tentang sosok tokoh yang seperti Muhammad tapi tidak saya temukan.”

2. George Sartown
Menurutnya, Nabi Muhammad tidak ada bedanya seperti para nabi terdahulu. Akan tetapi, di sisi lain, Nabi Muhammad mempunyai kelebihan yang tidak didapati dinabi-nabi sebelumnya.

Mari kita perhatikan, bagaimana orang yang di luar sana menilai kepribadian Nabi Muhammad saw. Mereka sebagai pemikir dan ilmuan Barat, tentunya tidak akan semena-mena mengeluarkan pendapat dan kekaguman kepada Nabi Muhammad saw. Kalau bukan karena kemuliaan yang nyata, lalu semua ini apa…?!

Oleh karena itu, mari mengevaluasi diri, perbanyak bekal menuju hari yang lebih berarti. Dan tetap meningkatkan semangat untuk mencapai ridho Ilahi. Karena kesempatan menjadi orang yang lebih baik masih terbuka hingga saat ini.

Sebagaimana disebutkan dalam satu ungkapan: “Orang yang hari sekarang lebih bernilai dari pada hari kemaren; maka orang tersebut diketegorikan sebagai orang yang beruntung. Orang yang hari sekarang tidak ada bedanya dengan hari kemaren, disebut sebagai orang yang merugi. Dan orang yang hari sekarang lebih buruk dari pada hari kemaren disebut sebagai orang yang celaka.

Maka dari situ, kita tidak ada pilihan selain mencari jalan yang lebih tepat dari yang kita lalui sekarang ini. Berani bertindak berarti telah membukan peluang untuk menuju kemenangan dan kehidupan yang lebih bernilai.

- Ditulis oleh: Sufrin Efendy Lubis, Mahasiswa Fakultas Syari’ah wa Qanun jurusan Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).