Ada kesalahan di dalam gadget ini

2.6.09

Ujian Bukan Hanya Berbentuk Musibah (1)

Hidup ini tak pernah lepas dari masalah. Ketika manusia lepas dari sebuah masalalah, ia akan dihadapkan dengan masalah lain yang harus dihadapi. Jika pun dia menghindar darinya, maka dia akan berhadapan dengan masalah baru. Sehingga tak salah jika ada orang yang mengatakan: “Hidup tanpa masalah adalah masalah.” Begitulah fenomena hidup.
Masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan ini – dalam bahasa Islamnya – biasa disebut dengan ujian hidup.
Ujian ini tidak datang kepada manusia secara kebetulan, tapi ujian ini merupakan kehendak Allah Swt yang pada hakekatnya bertujuan untuk kebaikan manusia sendiri, terutama orang-orang mukmin.
Allah Swt berfirman: "Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 155).
Rasulullah Saw juga menjelaskan dengan sabdanya: “Ujian akan senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah dan tidak ada padanya satu dosa pun (tidak menanggung satu dosa pun).” (HR. Tirmidzi)
Di dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan cobaan baginya.”
Oleh karena itu, para nabi sebagai manusia pilihan yang kebaikan dan derajat mereka yang tinggi di sisi Allah tidak diragukan lagi mendapat ujian yang lebih berat. Dari Mus’ab bin Said dari ayahnya ia berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah saw., siapa manusia yang paling berat cobaannya? Rasulullah saw. menjawab: ‘Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian orang-orang yang terbaik dan teladan. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-henti ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun. (HR. Ahmad)
Orang mukmin yang sukses menghadapi ujian hidup akan merasakan nikmatnya kehidupan. Kemiskinan harta tak membuatnya sedih. Sifat qana’ah terhadap nikmat yang Allah berikan, sifat ridha akan cobaan yang menimpa serta keyakinan yang kuat akan adanya ganjaran yang lebih besar dari Allah Swt. membuat dadanya semakin lapang. Sebaliknya, manusia yang “gagal” menghadapinya akan merasakan dunia yang luas ini menjadi sempit, apalagi jika mereka jauh dari Tuhan.
Ukuran sukses tidaknya manusia menghadapi ujian hidup bukanlah dengan penilaian subjektif manusia yang berupa angka-angka dan bersifat material, melainkan dengan penilaian Allah Swt.
Di dalam surah Al-Baqarah ayat 155-156, Allah Swt memberikan gambaran umum tentang standar kesuksesan seseorang dalam menghadapi ujian: “…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa ujian mereka berkata ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.’”
Kata kunci sukses dalam ujian pada makna ayat tersebut adalah “sabar” yang disertai dengan kesadaran terhadap eksistensi diri sebagai makhluk Allah Swt; siapa, dari mana, sedang dimana, dan akan pergi kemana diri ini kembali. Namun sabar bukanlah hal yang mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya sepenuh hati. Karena itu Allah Swt memberikan keistimewaan ma’iyatullah bagi orang-orang sabar: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 153).
Adapun orang-orang yang kesabarannya sedikit, Rasulullah saw telah memotivasi mereka agar berusaha tetap sabar, sabda beliau: “Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nikmat Juga Ujian
Bentuk ujian hidup bukan hanya tantangan dan nasib buruk yang membawa duka lara – seperti yang dipahami oleh banyak orang – berupa kematian, gagal cita-cita, fitnah, kehilangan harta, kondisi kesehatan yang melemah dan lainnya. Dalam harta yang Allah karuniakan, nikmat kesehatan yang dirasakan, pangkat dan kehormatan yang diperoleh, ilmu pengetahuan yang dikuasai, ruang dan waktu yang bersama kita dan semua nikmat yang diterima juga terdapat ujian. Inilah yang diisyaratkan oleh QS. An-Naml ayat 40:
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip'. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata: 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia'.

HIkmah Ujian
Ada banyak hikmah didatangkannya ujian bagi manusia, diantaranya: Ujian berupa nikmat akan memperjelas siapa yang pandai bersyukur dan tidak. Bagi yang bersyukur berarti dia sukses, dan sebagai ganjarannya akan ditambah baginya. Firman Allah Swt: "Jjika kamu bersyukur, pasti akan Aku menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim: 7).
Sedangkan ujian berupa musibah akan menampakkan siapa yang benar-benar mau bersabar. Bagi yang sabar akan mendapat ampunan dosa dan ganjaran pahala, dan dia sukses. Syukur dan sabar ini pulalah yang menjadi faktor loyalitas seseorang dalam beragama. Karena itu kedua-duanya menjadi standar kualitas keimanannya.
Manusia yang imannya sempurna akan selalu sadar bahwa bentuk ujian seperti apa pun yang datang kepadanya adalah bukti kasih sayang Allah Swt. Karena setiap ujian – baik berupa nikmat maupun musibah – adalah ladang amal yang subur baginya. Kesadaran seperti ini membuatnya selalu termotivasi untuk senantiasa beramal shaleh, baik yang sifatnya horizontal (terhadap sesama makhluk) maupun vertikal (kepada Sang Pencipta). Benarlah sabda rasulullah saw: “Allah tidak memberikan ketentuan (nasib) bagi seorang mukmin kecuali itu lebih baik baginya.” (HR. Ibnu Hibban). Dengan demikian, ujian akan meningkatkan kualitas iman seorang mukmin, moral, spiritual dan hidupnya serta meninggikan derajatnya di sisi Allah Swt. Wallahu a’lam.

- Ditulis oleh: Ihsan AM. Hs

2 komentar:

  1. apa perbedaan ujian dengan cobaan? kalau bisa lengkap dengan refrensinya.....!

    BalasHapus
  2. Maksud penulis cobaan = musibah kali.
    Tapi, dipikir2 sbenarnya ada juga bedanya. Yg jelas salah satunya pada tulisannya (ha ha ha).
    Perbedaan selanjutnya, adalah kalau ujian kan tidak selamanya dianggap oleh manusia sbgai bencana aau musibah, salah satu buktinya evaluasi di sekolah disebut juga sbg ujian. bukankah ujian trsebut sbg sarana dan motivasi belajar. Sementara cobaan, yg selalu terlintas di hati/pikiran hampir semua orang ketika mendengarnya adalah musibah, bala, bencana atau semacamnya. hanya saja bahasanya kedengaran lebih halus.
    Yup, aku kira penulis sudah bisa dianggap benar. Tapi biar tidak menyisakan kebingungan dan tanda tanya bagi beberapa pembaca semisal Anonim yg tidak menyebutkn identitasnya, alangkah baiknya admin mengubah kata "cobaan" yg ada di judul dg kata musibah atau lainnya. sekedr saran saja... gitu lho!

    BalasHapus

Oase Risalah


Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan (bersaksi bahwa) Isa (Yesus) adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (bersaksi bahwa) surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai kadar amalnya" (HR. Muslim)

Dari Anas ra, Nabi Muhmmad Saw bersabda: "Tidak seorang pun yang bersaksi dengan ketulusan hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah akan mengharamkannya dari api neraka" (HR. Bukhari Muslim).